Pilih Laman

Yang Terlupakan di Pengungsian

25 Jan, 2021

Halo kawan #GengBeda. Selamat tahun baru yaaa… Tahun baru kali ini benar-benar berbeda. Tidak ada pesta perayaan, suara terompet, hingga hiasan meriah. Mungkin kehilangan momen menyenangkan di malam pergantian tahun itu tidak seberapa berarti. Hal lain yang lebih membuat awal tahun ini penuh duka adalah karena banyaknya bencana yang menimpa saudara kita. Beragam bencana mulai dari banjir, longsor, gelombang tinggi, puting beliung, gunung meletus, hingga gempa bumi yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Sayangnya, beberapa media arus utama luput untuk memberitakan bencana tersebut, hingga kita tidak tahu secara lengkap kondisi saudara kita saat ini di sana.

Beberapa saudara kita yang menjadi korban bencana alam ada yang kehilangan harta bendanya, tempat tinggal, hingga anggota keluarganya. Akibat bencana alam ini, beberapa di antara mereka harus rela tinggal di pengungsian untuk jangka waktu yang tidak pasti. Mereka harus bergulat dengan pandemi dan trauma serta rasa kehilangan pasca bencana. Parahnya, bagi perempuan dan anak situasi bencana justru menempatkan mereka menjadi kelompok yang empat kali lebih rentan mengalami kekerasan.

Khusus berbicara soal perempuan, terdapat risiko-risiko yang mengancam perempuan berkaitan dengan hak kesehatan seksual dan reproduksi. Kondisi umum yang dialami oleh sebagian besar perempuan ialah menstruasi, hamil, melahirkan dan menyusui. Keempat kondisi ini menempatkan perempuan pada posisi rentan apabila hak-haknya tidak dipenuhi. Diperlukan adanya perlakuan khusus agar perempuan korban bencana bisa aman dan mendapatkan haknya secara penuh. Sarana dan prasarana pendukung selama masa pengungsian harus dibangun dengan memperhatikan kelompok perempuan sebagai individu yang rentan.

Lebih lanjut, risiko-risiko yang rentan dialami perempuan di antaranya pertama, bagi perempuan yang sedang mengalami menstruasi akan kesulitan mendapatkan pembalut setelah lima hari bencana. Akibat ketiadaan pembalut ini mereka memilih untuk menggunakan kain seadanya yang sayangnya tidak higienis. Hal ini pada akhirnya akan mengakibatkan iritasi di sekitar vagina. Kedua, bagi perempuan yang mengandung risiko pendarahan hingga keguguran juga tinggi. Minimnya sumber gizi yang memadai bagi ibu hamil akan mempengaruhi stamina tubuhnya. Selain itu, risiko pecah ketuban juga berbahaya. Apabila tidak segera ditangani maka bisa mengakibatkan infeksi hingga kematian bagi ibu dan bayi. Ketiga, perempuan yang menyusui juga berisiko memproduksi ASI lebih sedikit bagi bayinya. Terakhir, perempuan pengungsian juga rentan menjadi korban kekerasan seksual akibat ketiadaan ruang aman bagi perempuan selama di pengungsian.

Selama ini lokasi pengungsian menjadi tempat yang tidak aman bagi perempuan. Hal ini dibuktikan oleh hasil studi UNFPA selama Masa Tanggap Darurat di 10 tempat pengungsian Sulawesi Tengah pada 2018 lalu. Hasil studi menyebutkan selama masa tersebut terjadi 57 kasus kekerasan berbasis gender di antaranya penganiayaan fisik, pemerkosaan, pelecehan seksual, dan eksploitasi seksual. Kasus perkosaan terjadi di fasilitas MCK, tenda, tempat pengambilan air, hingga area gelap di sekitar pengungsian. Para korban perkosaan memilih diam karena takut dicap buruk oleh sekitar atau dinikahkan dengan pelaku. Mereka selanjutnya rentan menjadi korban aborsi tidak aman dan korban perdagangan orang.

Ketiadaan sarana dan prasarana selama pengungsian yang memenuhi standar perlindungan perempuan menjadi penyebab maraknya kekerasan selama situasi bencana. Tenda pengungsian hingga fasilitas MCK yang bercampur antara laki-laki dan perempuan, area sekitar pengungsian yang minim penerangan, hingga rusaknya pintu MCK membuat perempuan kehilangan ruang aman bagi dirinya.

Padahal di dalam Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana salah satu prinsip yang seharusnya dipenuhi ketika penanggulangan bencana alam adalah non-diskriminasi. Prinsip ini mensyaratkan pemerintah untuk tidak memberikan perlakuan berbeda kepada orang lain berdasarkan gender, agama,suku, ras, atau aliran politik. Berdasarkan prinsip ini seharusnya pelaksanaan penanggulangan bencana harus memperhatikan perspektif gender. Salah satunya dengan melaksanakan penanggulangan bencana sesuai standar pelayananan minimum. Standar tersebut dilakukan dengan kegiatan yang meliputi: pendataan, penempatan pada lokasi yang aman, dan pemenuhan kebutuhan dasar, yang disertai dengan kebutuhan spesifik bagi perempuan.

Permasalahan kesehatan seksual dan reproduksi serta risiko kekerasan seksual yang dihadapi oleh perempuan pengungsi selama ini terjadi karena pemerintah belum mampu melaksanakan penanggulangan bencana sesuai standar minimum. Perspektif gender seringkali luput dimuat dalam pelaksanaan penanggulangan tersebut. Salah satu dampaknya aspek kesehatan seksual dan reproduksi serta risiko kekerasan seksual terhadap perempuan belum mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah. Selama ini para pemangku kebijakan berpikir bahwa layanan kesehatan hanya terbatas pada korban yang mengalami luka fisik. Pemehuhan hak kesehatan seksual dan reproduksi selama pengungsian dianggap tidak mendesak sehingga seringkali diabaikan.

Kementerian Kesehatan sebetulnya telah menerbitkan Pedoman Pelaksanaan Paket Pelayanan Awal Minimum (PPAM) Kesehatan Reproduksi pada 2017 lalu. Pedoman ini memuat pelayanan minimum untuk berbagai aspek kesehatan reproduksi selama masa bencana. Mulai dari petunjuk pelaksanaan pencegahan dan layanan penanganan kekerasan seksual, pencegahan penularan HIV, pencegahan risiko kehamilan dan melahirkan, hingga layanan kesehatan reproduksi bagi remaja. Sayangnya, meski kita telah memiliki pedoman yang cukup baik untuk kebutuhan kesehatan seksual dan reproduksi selama masa bencana, pelaksanaan di lapangan masih jauh dari yang diharapkan. Masih perlu adanya komitmen kuat dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan petugas penanggulangan bencana di lapangan agar hak kesehatan seksual dan reproduksi, khususnya bagi perempuan bisa dipenuhi dengan layak.

 

Sumber:

  • Tirto.id, Daftar Bencana Alam Januari 2021, diakses melalui https://tirto.id/daftar-bencana-alam-januari-2021-gempa-banjir-gunung-meletus-f9lW
  • Kemenppa, Empat Kali Lebih Rentan Kekerasan, Kaum Perempuan Harus Dilindungi, diakses melalui https://www.kemenpppa.go.id/index.php/page/read/31/1716/4x-lebih-rentan-kekerasan-kaum-perempuan-harus-dilindungi
  • Kemkes, Kespro dan KB Komprehensif, diakses melalui http://bppsdmk.kemkes.go.id/pusdiksdmk/wp-content/uploads/2017/08/Kespro-dan-KB-Komprehensif.pdf
  • Kompas.id, Perempuan Alami Berbagai Kekerasan Seksual di Lokasi Pengungsian, diakses melalui https://kompas.id/baca/utama/2019/09/02/perempuan-alami-berbagai-kekerasan-seksual-di-lokasi-pengungsian/?_t=ZoBOTpCinJHsBA6dBoWD7LhyaqF9lRI5ypAfHIgxsPmaCATMWbdV8G86Dys
  • DPR, Penanganan Pengungsi Perempuan, diakses melalui https://berkas.dpr.go.id/puslit/files/info_singkat/Info%20Singkat-VII-14-II-P3DI-Juli-2015-62.pdf

 

Penulis: Rahayu

 

 

 

Beranda / Cerita Pedro / Yang Terlupakan di Pengungsian

Artikel Lainnya

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share This
Skip to content