Pilih Laman

Dukungan Rumah Aman dari MyDay Indonesia

23 Feb, 2021

Assalamualaikum ukhti dan akhi. Duh, sudah 2021 tapi kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak masih tinggi. Kondisi pandemi yang menyebabkan perempuan dan anak menghabiskan banyak waktu di rumah justru tidak juga membuat mereka dalam keadaan aman. Lingkungan rumah saat ini menjadi salah satu tempat rawan terjadinya kasus kekerasan bagi perempuan dan anak. Parahnya, pelaku kekerasan di lingkungan rumah biasanya orang yang kenal ataupun memiliki hubungan dekat dengan korban.

Selain itu, kasus kekerasan perempuan dan anak juga banyak terjadi di dunia maya. Hal ini karena waktu yang dihabiskan selama pandemi membuat orang-orang lebih banyak melakukan aktivitas secara online dibanding secara langsung. Berdasarkan sebuah tulisan The Conversation setidaknya ada tiga bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak yang terjadi di dunia maya, yaitu kekerasan seksual yang difasilitasi teknologi, penyebaran konten seksual, dan balas dendam dengan pornografi. Tujuan pelaku melakukan kekerasan di atas biasanya untuk mendapatkan keuntungan baik uang maupun seksual dari korban.

Sayangnya, dengan kondisi ini pemerintah masih belum menunjukan keseriusan dalam penanganan kasus kekerasan seksual. Upaya membantu pemulihan korban, baik trauma fisik maupun psikis juga masih minim. Padahal negara memiliki tanggung jawab untuk melakukan pemulihan bagi korban kekerasan seksual sebagaimana dicantumkan dalam UU No. 31 Tahun 2014 tentang Perlindungan Saksi dan Korban.

Salah satu upaya pemulihan terhadap korban kekerasan seksual adalah dengan menempatkan mereka di rumah aman. Rumah aman merupakan tempat kediaman sementara maupun baru yang dirahasiakan bagi korban dan saksi untuk menjamin keselamatan mereka. Pengelolaan rumah aman bagi korban kekerasan seksual oleh negara dilakukan oleh P2TP2A di bawah KemenPPPA dan LPSK. Akan tetapi jumlah rumah aman ini sangat terbatas dan tidak tersebar di setiap daerah, sehingga masih banyak korban kekerasan seksual yang belum mampu menjangkau layanannya. Ditambah prosedur rumah aman di P2TP2A selama pandemi ini harus mewajibkan surat keterangan negatif covid-19 untuk bisa dilayani. Hal ini sedikit menyulitkan para korban kekerasan baik perempuan dan anak yang seharusnya mendapatkan layanan kediaman sementara segera.

Beruntungnya, beberapa komunitas dan lembaga non pemerintah memiliki kepedulian tinggi dan berinisiatif untuk membantu para korban dengan menyediakan rumah aman. Meskipun dikelola dengan pendanaan yang tidak besar, namun upaya yang dilakukan oleh komunitas dan lembaga non pemerintah ini sangat membantu para korban untuk bisa keluar dari lingkaran kekerasan dan mengatasi trauma mereka. Salah satu lembaga non pemerintah yang menyediakan layanan rumah aman adalah LBH APIK. 

Selama pandemi Maret hingga November 2020 lalu, ada 710 pengaduan yang diterima LBH APIK. Pengaduan terbanyak selama kurun waktu tersebut adalah kasus KDRT (225 kasus) dan KBGO (196 kasus). Selebihnya adalah kekerasan seksual, kekerasan dalam pacaran, dan pidana umum. Dari kasus-kasus di atas, LBH APIK telah menampung setidaknya 35 korban kekerasan baik perempuan maupun anak di rumah aman selama pandemi.

Kepedulian terhadap kondisi dan keselamatan korban kekerasan ini ternyata tidak hanya datang dari komunitas maupun lembaga non pemerintah saja lho. Tetapi juga para fans K-Pop di Indonesia. Kalau tahun lalu ada ARMY yang membantu penggalangan dana untuk rumah aman, kali ini fans Day6 atau yang biasa disebut MyDay. Fans dari band asal Korea Selatan ini juga melakukan penggalangan yang bertepatan dengan ulang tahun Park Sungjin salah satu member Day6 pada Januari lalu. MyDay Indonesia cukup peduli terhadap perlindungan korban kekerasan, sehingga mereka berinisiatif untuk membantu para korban.

Wah! Saranghaeyo MyDay Indonesia…

 

Penulis: Rahayu

 

Beranda / Cerita Nisa / Dukungan Rumah Aman dari MyDay Indonesia

Artikel Lainnya

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share This
Skip to content